Vijay Prashad: Relevansi Spirit KAA 1955 Bandung dalam Mengatasi Krisis Global Saat Ini

Sejarawan dan intelektual Vijay Prashad menyatakan bahwa semangat yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955 di Bandung bukan sekadar kenangan masa lalu. Melainkan, hal ini merupakan agenda yang masih sangat penting dan relevan untuk mengatasi berbagai krisis global yang dihadapi saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Vijay Prashad dalam sebuah kuliah publik berjudul “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis,” yang berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung, pada hari Minggu, 19 April 2026.
“Ini bukan sekadar nostalgia. Ini tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah yang ada saat ini,” tegas Vijay Prashad dalam pemaparannya.
Vijay menekankan bahwa fokus utama dari KAA bukanlah sekadar isu keamanan, melainkan lebih pada tantangan ekonomi dan kedaulatan atas sumber daya alam. Ia berpendapat bahwa negara-negara di Global South selama ini telah mempertanyakan alasan mengapa kekayaan alam mereka harus diekspor ke luar negeri tanpa memberikan manfaat optimal bagi rakyatnya.
“Mengapa rakyat kita harus mengekstraksi kekayaan alam kita, dan kemudian membiarkannya mengalir ke negara lain? Mengapa kita tidak bisa mengolahnya sendiri, membangun industri, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita?” ungkapnya.
Vijay juga menyoroti bahwa perdebatan mengenai isu tersebut masih berlangsung hingga saat ini, termasuk di Indonesia. “Di Indonesia saat ini, Anda masih melihat perdebatan mengenai apa yang harus dilakukan dengan sumber daya nikel. Setelah lebih dari 71 tahun, kita masih berdiskusi tentang hal yang sama,” katanya.
Menurut Vijay, kegagalan negara-negara berkembang dalam mencapai kemandirian ekonomi tidak terlepas dari tekanan global yang menghambat inisiatif untuk membangun tatanan ekonomi internasional yang baru setelah konferensi Bandung.
“Ketika kita berupaya untuk mengembangkan agenda ekonomi yang mandiri, selalu ada intervensi dari pihak luar. Lihat saja apa yang terjadi di Brasil, Kongo, dan di Indonesia pada tahun 1965,” jelasnya.
Vijay menegaskan bahwa pesan utama dari Bandung adalah bahwa negara-negara di Global South bukan hanya memiliki hak untuk berbicara, tetapi juga hak untuk didengar dalam konteks sistem internasional.
“Tidak ada gunanya berbicara jika tidak ada yang mendengarkan. Agar suara kita didengar, kita perlu memiliki kekuatan,” tegasnya.
Ia juga memberikan kritik terhadap struktur global, seperti Dewan Keamanan PBB, yang dinilai tidak merepresentasikan kepentingan negara-negara berkembang. “Tidak ada anggota tetap dari Afrika. Tidak ada dari Amerika Latin. Padahal, mereka merupakan bagian signifikan dari dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Vijay menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi, termasuk kontrol atas sumber daya alam dan teknologi. Ia memberikan contoh kebijakan yang diterapkan oleh China, yang mewajibkan adanya transfer teknologi dan reinvestasi sebagai syarat untuk investasi asing yang masuk.
➡️ Baca Juga: Pernyataan John Herdman Mengenai Kiper Utama Timnas Indonesia yang Perlu Diketahui
➡️ Baca Juga: Kenaikan BBM Mendorong Peningkatan Pembelian Mobil Listrik di Pasar Indonesia



