Ricky Kambuaya Alami Rasisme Setelah Pertandingan Dewa United Melawan Persib Bandung

Ricky Kambuaya, pemain Dewa United, mengalami tindakan rasisme di platform media sosial setelah pertandingan melawan Persib Bandung yang berlangsung pada pekan ke-28 Super League 2025/2026 di Banten International Stadium pada tanggal 21 April 2026.
Dalam pertandingan tersebut, Dewa United berhasil mencetak gol lebih awal melalui Alex Martins pada menit ke-24. Namun, gol ini memicu perdebatan karena bola dianggap telah keluar dari lapangan sebelum gol tersebut tercipta.
Kambuaya kemudian menambah keunggulan timnya pada menit ke-61 dengan memanfaatkan umpan dari Noah. Namun, situasi ini juga menimbulkan kontroversi karena ada dugaan handball dalam proses yang mendahului gol tersebut.
Persib Bandung mampu bangkit setelah Dewa United harus bermain dengan 10 pemain menyusul kartu kuning kedua yang diterima oleh Alex Martins. Tim tamu berhasil memperkecil ketertinggalan melalui penalti yang dieksekusi oleh Thom Haye pada menit ke-77, sebelum Andrew Jung menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-86.
Setelah pertandingan selesai, Kambuaya mengungkapkan bahwa ia menjadi sasaran serangan rasis di media sosial. Ia membagikan tangkapan layar dari komentar-komentar bernada rasis tersebut melalui akun Instagram pribadinya pada hari Selasa.
“Bagaimana bisa …? M**yet bermain sepak bola di level profesional dan bahkan sampai mewakili negara yang dihuni para manusia. Masih kurang rasisnya, ayo tambah lagi, saudaraku,” tulis Kambuaya dalam unggahannya, menunjukkan rasa frustrasinya terhadap perilaku tersebut.
Hasil imbang ini berarti Persib Bandung gagal untuk memperluas keunggulan mereka di puncak klasemen. Saat ini, Persib masih bertahan di posisi teratas dengan 65 poin, selisih dua angka dari Borneo FC dan tujuh angka dari Persija Jakarta yang berada di peringkat ketiga.
Dalam dunia sepak bola, tindakan rasisme di media sosial menjadi isu yang semakin mengemuka dan mengkhawatirkan. Kasus Ricky Kambuaya menunjukkan betapa seriusnya masalah ini, terutama bagi pemain yang sering menjadi sasaran komentar negatif.
Rasisme dalam olahraga tidak hanya merusak citra olahraga itu sendiri, tetapi juga berdampak pada mental dan psikologis para atlet. Banyak pemain yang merasa tertekan dan tidak nyaman setelah menghadapi komentar-komentar tersebut, yang sering kali tidak mencerminkan kemampuan atau prestasi mereka di lapangan.
Penting bagi semua pihak, termasuk klub, federasi, dan penggemar, untuk bersatu melawan rasisme. Edukasi dan kesadaran mengenai isu ini harus ditingkatkan agar tindakan serupa tidak terulang di masa mendatang.
Berbagai langkah perlu diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, di mana semua pemain dapat berkompetisi tanpa rasa takut akan diskriminasi. Penggunaan media sosial juga harus dikelola dengan bijak, dan komentar negatif harus dihapus serta pelakunya dikenakan sanksi tegas.
Kedepannya, diharapkan akan ada lebih banyak upaya untuk mengatasi rasisme dalam sepak bola, termasuk kampanye anti-rasisme yang lebih luas dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Seperti yang ditunjukkan oleh Ricky Kambuaya, suara para pemain sangat penting dalam memperjuangkan perubahan ini.
Partisipasi aktif dari semua pihak dapat membawa dampak signifikan dalam mengurangi dan menghilangkan rasisme. Pemain, klub, dan penggemar harus berkomitmen untuk menciptakan atmosfer yang lebih positif dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan mereka di dunia sepak bola.
Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat berharap untuk melihat masa depan di mana diskriminasi tidak lagi memiliki tempat dalam olahraga, dan di mana setiap individu dihargai berdasarkan bakat dan kemampuannya, bukan latar belakangnya.
➡️ Baca Juga: Aturan Pembebasan Pajak Oleh-oleh Jemaah Haji dan Pengecualian untuk Jastip
➡️ Baca Juga: Iran Diduga Memanfaatkan Satelit Mata-mata China untuk Mengintai Pangkalan Militer AS di Timur Tengah




