Manfaat MBG Lebih Dirasakan Masyarakat Dibanding Subsidi Upah, Lihat Datanya

Jakarta – Efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat menjadi topik perdebatan saat pertama kali diluncurkan kini terbukti menjadi pendorong utama kepuasan masyarakat sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi di level komunitas.
Berdasarkan survei terbaru dari Poltracking Indonesia, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tercatat sangat tinggi, yakni mencapai 75,1 persen.
Peneliti Utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, mengungkapkan bahwa menariknya, dari 74,1 persen masyarakat yang merasa puas dengan kinerja pemerintah, faktor utama yang mendukung angka ini adalah keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami melakukan analisis mendalam mengenai program prioritas MBG. Dari data yang kami peroleh, 88 persen publik mengetahui tentang program ini yang sangat populer, meskipun hanya 55 persen yang menyatakan puas terhadap pelaksanaannya,” jelas Amrawi dalam keterangannya pada Jumat, 17 April 2026.
Selanjutnya, data yang diperoleh Poltracking menunjukkan bahwa 36,5 persen masyarakat menilai MBG sebagai program yang memberikan manfaat paling nyata bagi mereka.
“Ini jauh melampaui program bantuan lain, seperti subsidi upah maupun layanan kesehatan,” tambahnya.
Temuan dari Poltracking ini sejalan dengan pendapat Oscar Darmawan, pendiri dan ketua Indodax, yang dikenal sebagai bursa aset digital terbesar di Indonesia. Oscar mencermati bahwa program ini memiliki daya tarik tersendiri, karena dari perspektif makroekonomi, masyarakat merasakan banyak manfaat dari MBG.
“MBG menciptakan banyak lapangan kerja. Setiap dapur MBG di berbagai lokasi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Indonesia menghadapi tantangan dengan populasi yang besar, tetapi banyak pula yang menganggur. Jika banyak warga yang tidak memiliki pekerjaan, dampaknya akan negatif bagi negara,” ungkap Oscar.
“Sehingga, salah satu solusinya adalah menciptakan inisiatif yang dapat mempekerjakan banyak orang dengan keterampilan yang dapat dipelajari oleh siapa saja,” lanjutnya.
Lebih dari itu, Oscar menyoroti bahwa anak-anak sekolah yang tinggal di daerah-daerah kecil sering kali tidak mendapatkan makanan siang yang layak. Terlepas dari berbagai kontroversi yang mengelilingi program MBG, mereka lebih baik menerima makanan siang daripada tidak sama sekali.
“Daripada hanya mengandalkan makanan ringan yang kurang bergizi, setidaknya dengan MBG mereka mendapatkan nasi, ayam, dan telur,” tuturnya.
➡️ Baca Juga: Panduan Mudik 2026: Rincian Tarif Tol dari Jakarta ke Destinasi di Jawa
➡️ Baca Juga: Usulan War Tiket Haji oleh Anggota DPR: Utamakan Keadilan dan Transparansi dalam Proses




