Kenaikan Harga Secangkir Kopi dan Teh, Dampak Perang Terhadap Sektor Kuliner

Memanasnya konflik antara Iran dan Israel, ditambah dengan keterlibatan Amerika Serikat, telah memicu ketidakstabilan di pasar ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial bagi distribusi minyak dunia, berkontribusi terhadap kenaikan harga energi yang berdampak luas, mulai dari biaya listrik hingga gas, serta mempengaruhi distribusi bahan baku.
Dampak dari situasi ini mulai dirasakan di berbagai industri, termasuk sektor makanan dan minuman. Sejumlah warung kopi di negara-negara tetangga mulai menaikkan harga minuman seperti kopi dan teh sebagai langkah untuk menjaga operasional mereka di tengah lonjakan biaya yang terus meningkat.
Di Singapura, banyak coffee shop tradisional melaporkan bahwa mereka telah menaikkan harga minuman mereka sekitar 10 hingga 30 sen, yang setara dengan Rp1.300 hingga Rp3.900 per gelas, berdasarkan kurs Rp13.000 per dolar Singapura saat ini.
Salah satu kafe yang lebih dulu mengimplementasikan penyesuaian harga berada di kawasan MacPherson. Pengelola kafe tersebut telah menginformasikan kepada pelanggan bahwa mulai 1 April, semua minuman dan beberapa menu makanan yang mereka tawarkan akan mengalami kenaikan harga antara 10 hingga 20 sen.
Beberapa kedai lainnya juga mengikuti langkah serupa. Pemilik salah satu kafe di Bedok mengungkapkan bahwa mereka berencana untuk menaikkan harga beberapa minuman setidaknya 10 sen per cangkir mulai 1 Mei. Kebijakan yang sama juga akan diterapkan di tiga kafe lainnya yang berlokasi di asrama pekerja migran.
Pemilik kafe tersebut menyatakan bahwa meskipun saat pandemi Covid-19 ia tidak menaikkan harga di ketiga lokasi tersebut, lonjakan biaya gas dan listrik saat ini membuat situasi menjadi tidak dapat dipertahankan.
“Kami benar-benar sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya, sebagaimana dilaporkan oleh media setempat. “Kami harus melakukan penyesuaian harga demi kelangsungan usaha.”
Pengelola kios minuman di Blok 116 Toa Payoh Lorong 2, yang juga sudah lebih dulu menaikkan harga sebesar 10 sen per gelas pada bulan April, menegaskan bahwa penyesuaian harga ini penting agar usaha mereka tetap dapat beroperasi dan berharap pelanggan dapat memahami kondisi yang sulit ini.
Terkait dengan kenaikan ini, Ketua Foochow Coffee Restaurant and Bar Merchants Association, Hong Poh Hin, menyatakan bahwa para pengelola coffee shop memang sedang menghadapi peningkatan biaya hingga 20 persen sejak awal tahun 2026. Selain itu, tagihan listrik diperkirakan masih akan terus mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
➡️ Baca Juga: Ekonomi: Piala Asia Umumkan Kebijakan Baru
➡️ Baca Juga: Laptop Terbaik untuk Mahasiswa Ekonomi dan Akuntansi yang Efisien dan Terjangkau




