Iran Diduga Memanfaatkan Satelit Mata-mata China untuk Mengintai Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Iran dilaporkan telah berhasil memperoleh satelit mata-mata yang diproduksi oleh China pada akhir tahun 2024. Pengadaan ini memberi Iran kemampuan untuk memantau pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, terutama dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS serta Israel. Informasi ini disampaikan oleh Financial Times pada 15 April 2026.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa Iran telah menggunakan satelit militer untuk mengawasi sejumlah lokasi strategis milik AS di kawasan tersebut, baik sebelum maupun setelah serangkaian serangan drone dan rudal yang terjadi pada bulan Maret lalu.
Daftar lokasi yang menjadi target pemantauan mencakup delapan negara, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, Oman, Yordania, Bahrain, dan Djibouti. Area-area ini tidak hanya terdiri dari pangkalan militer AS, tetapi juga mencakup infrastruktur vital lainnya, menurut laporan dari Financial Times.
Satelit yang dimaksud dikenal dengan nama TEE-01B. Satelit ini dirancang dan diluncurkan oleh perusahaan dari China, Earth Eye Co, dan berhasil diperoleh oleh Angkatan Udara Garda Revolusi Islam setelah peluncurannya dari China, sebagaimana terungkap dalam dokumen militer Iran yang bocor.
Menurut laporan tersebut, para komandan militer Iran mengarahkan satelit itu untuk melakukan pemantauan terhadap sejumlah situs militer penting milik AS. Informasi ini didasarkan pada daftar koordinat yang disertai cap waktu, citra satelit, serta analisis orbit. Gambar-gambar tersebut diambil pada bulan Maret, baik sebelum maupun sesudah serangan drone dan rudal yang menyasar lokasi-lokasi tersebut.
Sebagai bagian dari kesepakatan yang terjalin, IRGC (Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran) mendapatkan akses ke stasiun bumi komersial yang dikelola oleh Emposat, sebuah penyedia layanan kontrol dan data satelit yang berbasis di Beijing. Jaringan Emposat meliputi wilayah Asia, Amerika Latin, dan beberapa daerah lainnya, sebagaimana diungkap dalam laporan tersebut.
Nicole Grajewski, seorang ahli Iran dari Universitas Sciences Po, menyatakan bahwa Iran sangat memerlukan kemampuan yang diberikan oleh pihak asing ini selama konflik yang sedang berlangsung. “Ini memungkinkan Garda Revolusi Islam untuk lebih cepat mengidentifikasi target dan mengevaluasi keberhasilan serangan mereka,” ungkapnya kepada Financial Times.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan satelit ini tidak bersifat sipil. “Satelit ini jelas digunakan untuk tujuan militer, karena dioperasikan oleh Angkatan Udara Garda Revolusi Islam dan bukan oleh program luar angkasa sipil Iran,” tambahnya.
Laporan tersebut mencatat bahwa satelit ini pernah merekam gambar Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada tanggal 13, 14, dan 15 Maret. Pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pesawat-pesawat militer AS di pangkalan tersebut telah menjadi target serangan, dengan lima pesawat pengisian bahan bakar Angkatan Udara dilaporkan mengalami kerusakan akibat insiden tersebut.
➡️ Baca Juga: Rutin Pagi yang Terarah untuk Memulai Hari dengan Produktif dan Efektif
➡️ Baca Juga: Longsor Sampah di Bantargebang, Menteri Lingkungan Hidup Tegur Pemprov DKI Jakarta




