Iran Menolak Negosiasi dengan AS karena Tuntutan yang Tidak Masuk Akal

Negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini berakhir di Islamabad tanpa mencapai kesepakatan. Iran dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk melanjutkan dialog dengan pihak AS.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi pada hari Minggu bahwa delegasi AS meninggalkan Pakistan setelah lebih dari 21 jam melakukan negosiasi yang tidak membuahkan hasil. Pertemuan tersebut dirancang untuk mempertahankan gencatan senjata dan menghindari eskalasi konflik di Timur Tengah.
Vance menekankan bahwa Washington telah menetapkan “garis merah” mereka, khususnya menuntut jaminan yang jelas bahwa Iran tidak akan melanjutkan program senjata nuklirnya.
Pejabat dari AS mengungkapkan bahwa Teheran menolak untuk menerima syarat tersebut, sementara tim yang dipimpin oleh Ketua DPR Iran, Ghalibaf, menyatakan bahwa Washington tidak menunjukkan minat untuk melanjutkan negosiasi.
Media di Iran menyalahkan tuntutan AS yang dianggap “berlebihan” atas berakhirnya pertemuan tersebut dengan cepat, dan menyiratkan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan negosiasi lebih lanjut dalam waktu dekat.
Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, menegaskan bahwa Teheran akan tetap berpegang pada hak-haknya, mulai dari kontrol di Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi yang dianggap layak.
Aref juga menyoroti pentingnya persatuan nasional, merujuk pada apa yang dia sebut sebagai meningkatnya kohesi sosial di dalam masyarakat, dan menyatakan bahwa pemerintah melihat persatuan ini sebagai fondasi untuk memajukan kepentingan negara.
“Dari kekuatan di Selat Hormuz hingga tuntutan kompensasi, kami tetap berkomitmen pada hak-hak rakyat. Ini adalah ikrar kami untuk Iran yang lebih kuat,” ujar Aref pada Minggu, 12 April 2026. Ia menambahkan bahwa Iran berkomitmen untuk melindungi hak-haknya sembari terus berupaya di jalur diplomatik dan nasional.
Setiap pihak berharap bahwa mediasi dari Pakistan dapat mengubah gencatan senjata sementara menjadi solusi politik yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, namun perbedaan pandangan yang mendalam mengenai isu-isu seperti pembatasan nuklir, pencabutan sanksi, keamanan regional, dan kontrol atas Selat Hormuz telah menyulitkan proses pembicaraan.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan bahwa negaranya berkomitmen untuk memfasilitasi putaran dialog baru antara Iran dan AS dalam beberapa hari ke depan. Namun, hingga saat ini, tidak ada tanggapan langsung yang diberikan oleh kedua pihak.
Pasar kini bersiap menghadapi potensi volatilitas. Ketidakpastian yang muncul selama akhir pekan ini dapat mendorong lonjakan harga minyak dan sekaligus memberikan tekanan pada pasar saham global, terutama setelah investor merasa optimis dengan ekspektasi adanya kesepakatan damai yang mungkin tercapai.
➡️ Baca Juga: Jejak Emas Michael Bambang Hartono dalam Membangun Ekosistem Bulutangkis Indonesia
➡️ Baca Juga: MBG Kontribusi Pajak 3-5 Persen untuk Total Anggaran, Kata Menkeu Purbaya




