pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k Depo 10k
berita

BMKG Laksanakan Modifikasi Cuaca untuk Hapus Debu Vulkanik Anak Krakatau dalam 2 Hari

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berupaya mengatasi permasalahan debu vulkanik yang muncul akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dengan menggunakan operasi modifikasi cuaca, BMKG menargetkan untuk mengurangi dampak debu tersebut dalam waktu satu hingga dua hari.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa operasional ini akan dilakukan dengan menerapkan dua teknik yang disesuaikan berdasarkan kondisi awan yang ada di atmosfer. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses penurunan debu vulkanik ke permukaan.

“Melalui dua metode ini, kami berharap dalam dua hari ke depan, permasalahan debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau dapat diselesaikan, asalkan tidak ada letusan baru yang terjadi,” jelas Seto dalam konferensi pers setelah rapat koordinasi pemerintah dengan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) hutan di Jakarta, pada Senin, 7 September 2026.

Ia menambahkan bahwa metode pertama diterapkan ketika tidak ada awan di langit. Dalam kondisi ini, pesawat akan menyemprotkan bahan ke atmosfer untuk mempercepat penurunan partikel debu vulkanik yang terbang di udara.

“Jika langit bersih dari awan, pesawat akan melakukan penyemprotan. Ini bertujuan untuk menciptakan bahan semprotan yang akan membantu debu vulkanik turun,” imbuhnya.

Bahan yang digunakan dalam penyemprotan adalah air yang dicampur dengan surfaktan. Menurut Seto, surfaktan berfungsi untuk mengikat partikel debu sehingga dapat lebih cepat jatuh ke tanah.

“Yang kami semprotkan adalah campuran air dan surfaktan. Dengan demikian, ada bahan tertentu yang mampu mengikat debu, sehingga partikel tersebut dapat jatuh dengan lebih efisien,” terangnya.

Di sisi lain, jika awan sudah mulai terbentuk, BMKG akan beralih ke metode modifikasi cuaca yang melibatkan semai awan. Metode ini bertujuan untuk mengaktifkan awan dan memicu terjadinya hujan.

“Apabila awan sudah ada, kami akan mengganti bahan yang digunakan dengan air yang dicampur dengan bahan semai. Ini akan mengaktifkan awan agar hujan turun,” tuturnya.

Operasi modifikasi cuaca ini juga diarahkan untuk meminimalkan dampak penyebaran debu vulkanik di daerah-daerah yang terkena imbas, termasuk Jakarta.

Seto menjelaskan bahwa pelaksanaan modifikasi cuaca tidak dilakukan dari Jakarta, melainkan melalui posko yang terletak di Semarang dan Kertajati. Operasi ini didukung oleh pesawat yang didatangkan dari Kalimantan.

“Kami mendatangkan pesawat dari Kalimantan dan mengirimnya ke Semarang,” ujarnya.

“Dari posko tersebut, kami akan melakukan operasi di Semarang dan Kertajati,” tambahnya.

➡️ Baca Juga: Strategi Bisnis Dropship Efektif untuk Meningkatkan Pendapatan dari Rumah

➡️ Baca Juga: Akbar Faizal Mendorong Erick Thohir Mundur Setelah Timnas Indonesia Gagal di Piala AFF 2026

Related Articles

Back to top button