Dampak Negatif Rekayasa Narasi Sesat Terhadap Masyarakat dan Hubungan Sosial

Artikel ini ditulis oleh Prof. Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina dan Guru Besar Ilmu Ekonomi, serta Ekonom Pendiri Indef.
Jakarta – Saya hadir di depan Pak Jusuf Kalla saat beliau memberikan ceramah di masjid UGM, menyaksikan setiap kata yang disampaikannya dari awal hingga akhir. Namun, ketika isi ceramah tersebut disebarkan dalam bentuk yang terpotong-potong, jelas terlihat bahwa ini adalah rekayasa yang berpotensi membelokkan makna aslinya. Penyebaran potongan-potongan tersebut merupakan bentuk narasi yang tidak bertanggung jawab, dengan unsur jahat dan fitnah yang sangat merugikan.
Lebih parah lagi, narasi tersebut memicu perpecahan antaragama, menciptakan kebencian di antara anak bangsa yang tengah berjuang untuk membangun kerukunan dan persatuan. Usaha untuk menciptakan masyarakat yang harmonis terus dilakukan, tetapi fitnah yang ditaburkan oleh narasi sesat ini dapat menghancurkan semua upaya yang telah dilakukan secara serius dan tanpa henti.
Saya menyaksikan bagaimana Jusuf Kalla menjelaskan suasana saat itu ketika beliau berperan sebagai juru damai dalam konflik yang sangat keras dan mengakibatkan banyak korban tewas antara umat Islam dan Kristen. Konflik tersebut sangat brutal, di mana masing-masing pihak percaya bahwa tindakan saling membunuh adalah bagian dari jihad yang akan membawa mereka ke surga.
Narasi penjelasan mengenai kondisi tersebut kemudian dipotong dan disebarkan dengan cara yang menyesatkan, sehingga muncul kesan bahwa membunuh umat lain adalah jihad yang menjamin surga. Potongan video ini akhirnya menjadi narasi sesat yang menimbulkan perpecahan di masyarakat. Dengan demikian, jelas bahwa ada rekayasa di balik penyebaran ini, dan ada pihak-pihak tertentu yang memiliki agenda tersembunyi.
Oleh karena itu, pihak yang menyebarkan dan menciptakan potongan narasi ini seharusnya dihadapkan pada hukum sebagai pelanggaran sosial yang berdampak pada persatuan bangsa. Teknologi seperti machine learning dan kecerdasan buatan tentu dapat digunakan untuk melacak jaringan algoritma yang terlibat dalam rekayasa kejahatan sosial semacam ini.
Negara harus mengambil langkah untuk mengidentifikasi dan menghentikan rekayasa narasi yang merusak ini. Jika hal ini dibiarkan, kebiasaan menyebarkan fitnah dan narasi jahat di ruang publik akan dianggap normal, dan hal tersebut dapat merusak kerukunan serta kehidupan berbangsa. Apabila dibiarkan, ini juga akan menciptakan persepsi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang berperan sebagai wasit, yang akan semakin memperkeruh keadaan. Oleh karena itu, negara perlu hadir sebagai penegak sistem kehidupan sosial dan berbangsa yang baik, untuk memastikan kesejahteraan masyarakat.
➡️ Baca Juga: Libur Iduladha, Wisatawan Padati Kawasan Braga Bandung untuk Foto dan Kulineran
➡️ Baca Juga: Panduan Membeli iPhone Bekas: Ciri-ciri dan Cara Menghindari iPhone IMEI Buruk