Strategi Korlantas Polri Efektif Menekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik Lebaran

Jakarta – Akademisi sekaligus Guru Besar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Albertus Wahyurudhanto, menilai bahwa strategi yang diterapkan oleh Korlantas Polri dalam mengelola arus mudik telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terutama, strategi ini berperan penting dalam mengurangi risiko kecelakaan serta meningkatkan kepuasan masyarakat selama periode mudik.
Dalam pandangannya, pencapaian ini tidak terlepas dari fokus pada pelayanan kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa selain menjalankan tugas penegakan hukum dan menjaga keamanan, peran Korlantas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan publik sangat dirasakan oleh masyarakat luas.
“Bukan hanya kecepatan yang menjadi prioritas, melainkan keamanan, keselamatan, dan kepuasan masyarakat. Hal ini terlihat dari reaksi positif yang ditunjukkan oleh publik,” ujarnya.
Albertus menjelaskan bahwa dalam konteks good governance, keberhasilan sebuah kebijakan sangat dipengaruhi oleh penerimaan masyarakat. Respons yang positif selama masa mudik menjadi indikator bahwa strategi yang diterapkan oleh Korlantas Polri berjalan dengan baik dan efektif.
Ia mengungkapkan bahwa karakteristik mudik di Indonesia yang melibatkan beragam latar belakang sosial, budaya, dan agama memerlukan pengelolaan yang cermat. Dengan meningkatnya jumlah kendaraan, pertumbuhan populasi, serta kemajuan infrastruktur, pendekatan berbasis teknologi dipandang sebagai kunci keberhasilan.
“Jika tidak dirancang dengan dukungan teknologi yang memadai, hasilnya tidak akan optimal. Ini adalah aspek yang sangat patut diapresiasi,” katanya.
Lebih lanjut, keberadaan posko mudik dan layanan terpadu juga dinilai memiliki peran besar dalam memastikan kelancaran dan kenyamanan perjalanan. Ia menekankan bahwa pengelolaan arus mudik adalah kerja sama lintas sektor, dengan kepolisian berfungsi sebagai sektor yang memimpin di jalan raya.
“Ini adalah kerja simultan yang melibatkan dukungan dari sektor kesehatan dan berbagai komponen lainnya yang meningkatkan pelayanan di lapangan,” jelasnya.
Albertus juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap era digital dalam pengelolaan lalu lintas. Perubahan perilaku masyarakat, seperti penggunaan sistem GPS (Global Positioning System) dan metode pembayaran non-tunai, sangat mempengaruhi pola perjalanan saat mudik.
Namun, ia mengingatkan perlunya peningkatan literasi publik agar pemanfaatan teknologi dapat dilakukan secara optimal. Ini termasuk pemahaman tentang sistem pembayaran tol dan penggunaan navigasi digital yang semakin umum.
Di sisi lain, pendekatan berbasis data yang diterapkan dalam pengambilan kebijakan dinilai sebagai langkah yang tepat. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap harus melibatkan pertimbangan manusia dengan tetap mengedepankan kearifan lokal.
➡️ Baca Juga: Meningkatnya Tren Olahraga di Indonesia dan Cedera yang Paling Sering Terjadi
➡️ Baca Juga: Polisi Menggagalkan Penjualan Bebas Ratusan Butir Obat Keras di ‘Kampung Tramadol’ Cikarang




