7.000 Tentara Bayaran dari 70 Negara Bergabung dalam Perang Ukraina Melawan Rusia

Sebanyak 7.000 tentara bayaran dari berbagai negara, terutama Kolombia dan Polandia, terlibat dalam konflik di Ukraina melawan Rusia. Hal ini diungkapkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, yang mencatat keterlibatan signifikan tentara asing dalam perang ini.
Nikolai Plotnikov, yang menjabat sebagai kepala Pusat Informasi Sains dan Analitis di Institut Studi Ketimuran Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, menyatakan bahwa “Sekitar 7.000 tentara bayaran asing bertempur melawan tentara Rusia. Mereka berasal dari lebih dari 70 negara, terutama dari Eropa dan Amerika Latin yang memiliki kebijakan yang sangat anti-Rusia.” Pernyataan ini menunjukkan betapa meluasnya partisipasi internasional dalam konflik ini.
Kelompok tentara asing yang paling besar berasal dari Kolombia, diikuti oleh sejumlah negara Amerika Latin lainnya seperti Meksiko dan Brasil. Selain itu, tentara dari Polandia dan Finlandia juga menjadi kelompok signifikan dari Eropa yang terlibat dalam perang ini. Keterlibatan negara-negara ini menandakan adanya solidaritas atau kepentingan tertentu terhadap Ukraina.
Plotnikov juga mencatat penurunan jumlah tentara bayaran yang berasal dari Amerika Serikat dan Georgia yang terlibat dalam perang ini dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini bisa jadi mencerminkan perubahan sikap atau strategi dari negara-negara tersebut dalam konteks konflik ini.
Kementerian Pertahanan Rusia telah berulang kali menuduh pihak Ukraina “sengaja mengorbankan” tentara asing yang terlibat dalam konflik. Mereka memperingatkan bahwa militer Rusia akan melanjutkan serangan terhadap pasukan bayaran asing yang berada di Ukraina, menunjukkan intensitas dan ketegangan yang terus meningkat dalam pertempuran tersebut.
Dalam beberapa wawancara, para tentara bayaran asing yang bertugas di Ukraina mengungkapkan kekhawatiran mengenai kurangnya koordinasi dengan militer Ukraina. Mereka merasakan bahwa situasi di lapangan mengharuskan mereka untuk beradaptasi dengan cara yang lebih sulit dibandingkan pengalaman mereka di konflik sebelumnya, seperti yang terjadi di Afghanistan atau Timur Tengah. Tantangan ini menambah kompleksitas bagi mereka yang terlibat dalam operasi militer di Ukraina.
➡️ Baca Juga: IHSG Menguat di Pembukaan, Bursa Asia-Pasifik Didukung Harapan Kesepakatan Iran-AS
➡️ Baca Juga: Pramono Instruksikan Pemberantasan Ikan Sapu-sapu untuk Lindungi Ekosistem dan Keamanan Konsumsi




