Ruben Onsu Bahas Perbedaan Keyakinan Setelah Adopsi Thayaka dan Dampaknya pada Tiga Anak

Jakarta – Keputusan Ruben Onsu untuk mengadopsi seorang bayi laki-laki bernama Thayaka Putra Onsu ternyata muncul dari refleksi mendalam yang ia lakukan saat menunaikan ibadah umrah. Dalam sebuah kajian yang berlangsung di Masjid Nabawi, ia mendengarkan pembahasan mengenai pentingnya doa anak untuk orang tua yang telah meninggal, yang membawanya untuk merenungkan masa depan keluarganya dan perbedaan keyakinan yang ada antara dirinya dan anak-anaknya.
Ruben membagikan kisahnya ini melalui kanal YouTube pribadinya. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman mengikuti kajian di pintu 19 Masjid Nabawi telah memberinya perspektif baru yang signifikan.
Dalam kajian tersebut, Ruben mendengarkan penjelasan tentang bagaimana doa anak-anak untuk orang tua yang sudah tiada dapat menjadi penolong di akhirat. Materi yang disampaikan menginspirasinya untuk merenungkan hubungan spiritual yang ia miliki dengan ketiga anaknya.
“Saya mengikuti kajian di pintu 19 di Nabawi, di mana tema kajiannya itu adalah tentang kalau kita sudah meninggal, nanti yang mendoakan adalah anak-anak kita sendiri,” tuturnya dalam sebuah video di kanal YouTube Just Ruben.
Mantan suami Sarwendah ini menyadari bahwa ia dan ketiga anaknya memiliki perbedaan dalam keyakinan. Kesadaran ini menjadi salah satu hal yang terus menghantuinya setelah mengikuti kajian di Tanah Suci.
“Saya sangat menyadari bahwa anak-anak saya memiliki keyakinan yang berbeda,” tambahnya.
Perenungan yang mendalam ini pun memengaruhi keputusan Ruben untuk membuka hatinya dan mengadopsi seorang anak laki-laki. Namun, proses menuju keputusan tersebut tidak hanya terbatas pada pengalaman spiritual selama umrah.
Setelah kembali ke Indonesia, Ruben berkenalan dengan Thayaka, seorang bayi yang berada di bawah perawatan yayasan milik Melanie Subono. Salah satu momen paling berkesan bagi Ruben adalah ketika ia mencoba menyapa bayi tersebut melalui panggilan video.
Ruben terkejut saat melihat respons Thayaka ketika ia memanggilnya dengan sapaan sederhana. Reaksi spontan bayi itu membuatnya merasakan kedekatan yang sulit untuk dijelaskan.
“Saya memanggilnya ‘Baby’, dan matanya langsung merespons. Dari situlah saya merasa terpanggil,” jelas pria berusia 43 tahun ini.
Meskipun merasakan ikatan emosional yang kuat, Ruben tidak langsung memutuskan untuk mengadopsi Thayaka. Ia memilih untuk membawa keinginannya dalam doa dan meminta petunjuk dari Tuhan sebelum mengambil langkah selanjutnya.
Ruben kemudian kembali melaksanakan salat malam sebagai bentuk ikhtiar untuk memantapkan hatinya. Ia berharap jika keputusan ini merupakan yang terbaik, maka proses adopsi dapat berjalan dengan lancar.
➡️ Baca Juga: 85 Persen Calon Manajer Kopdes Setuju dengan Lokasi Penempatan yang Ditetapkan Kemenkop
➡️ Baca Juga: Hiburan: Google Hadapi Tantangan Besar




