asdadsasd.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

waocp.com

kpkgg

berita

Houthi: Identitas Kelompok Sekutu Iran di Yaman yang Mengancam Perdagangan Laut Merah

Kelompok Houthi kembali menarik perhatian internasional setelah pemerintah Yaman yang didukung oleh Arab Saudi mengumumkan dimulainya serangan militer untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai oleh kelompok tersebut.

Perkembangan ini menandai kebangkitan kembali konflik antara Houthi dan Arab Saudi, yang sempat mereda dalam beberapa waktu terakhir. Situasi ini tidak hanya mempengaruhi kondisi di Yaman, tetapi juga meningkatkan risiko bagi pelayaran di Laut Merah, yang dapat mengganggu jalur perdagangan dan ekspor energi dari Timur Tengah.

Houthi merupakan kelompok yang memiliki kekuatan politik, militer, dan keagamaan, yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman. Kelompok ini telah menjadi pemain kunci dalam konflik yang berkepanjangan di negara tersebut, menghadirkan tantangan besar bagi stabilitas regional.

Aktivitas militer Houthi tidak hanya berdampak pada situasi domestik, tetapi juga pada perdagangan global. Terutama setelah mereka melakukan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal kargo dan tanker yang beroperasi di Laut Merah, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri maritim.

Sejak muncul di wilayah utara Yaman pada tahun 1990-an, Houthi berawal sebagai sebuah gerakan kebangkitan bagi sekte Zaydi dalam Islam Syiah. Sekte ini sebelumnya pernah memegang kekuasaan di Yaman, namun wilayah utara yang mereka dominasi mengalami kemiskinan dan marginalisasi seiring berjalannya waktu.

Dari awalnya sebagai gerakan keagamaan, Houthi bertransformasi menjadi kekuatan politik dan militer yang signifikan. Mereka terlibat dalam serangkaian perang gerilya melawan tentara nasional Yaman dan bahkan terlibat dalam konflik perbatasan dengan Arab Saudi, negara yang mayoritas penduduknya beragama Sunni.

Ketika Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh digulingkan pada tahun 2011 dalam gelombang demonstrasi yang dikenal sebagai Arab Spring, Houthi berhasil memperkuat pengaruhnya di kawasan utara.

Kelompok ini menolak proses transisi politik yang didukung oleh negara-negara Teluk, yang berusaha memfasilitasi stabilitas di Yaman.

Dalam perkembangan tersebut, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, berhasil mengubah kelompok pejuang dari kawasan pegunungan menjadi kekuatan yang memiliki puluhan ribu anggota, dengan dukungan yang signifikan dari Iran.

Pada tahun 2014, Houthi berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa, yang membuat pemerintah yang diakui secara internasional terpaksa mundur ke selatan menuju Aden.

Ekspansi pengaruh Houthi di Yaman menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah Arab Saudi. Riyadh memandang meningkatnya pengaruh Iran di negara tetangganya sebagai ancaman terhadap keamanan nasional mereka.

Sebagai respons, Arab Saudi memimpin intervensi militer pada awal tahun 2015 dengan tujuan untuk menggusur Houthi, mengembalikan pemerintahan Yaman yang sah, dan menghidupkan kembali proses transisi politik yang sempat terhenti.

➡️ Baca Juga: Flores Back-Arc Thrust: Penyebab Gempa M7,7 NTT dan Potensi Bahaya yang Perlu Diketahui

➡️ Baca Juga: Vicky Prasetyo Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Kasus Penipuan yang Menghebohkan

Related Articles

Back to top button