Menko Yusril Tegaskan Tidak Tulis Buku ‘Islam Ala Prabowo’, Hanya Melakukan Wawancara

Jakarta – Menteri Koordinator (Menko) bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, dengan tegas menyatakan bahwa ia bukanlah penulis buku berjudul “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.”
Yusril menjelaskan bahwa perannya dalam buku tersebut hanya terbatas sebagai salah satu narasumber yang diwawancarai oleh tim penulis. Ia tidak terlibat dalam proses kreatif maupun diskusi mengenai isi dan pembiayaan penerbitan buku tersebut.
Dalam penjelasannya, Yusril menegaskan bahwa ia tidak dilibatkan dalam pemilihan judul atau dalam proses penggagasan buku. “Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” ujar Yusril saat dihubungi pada Selasa, 8 September 2026.
Setelah sesi wawancara berlangsung, Yusril mengaku tidak pernah melihat transkrip atau naskah hasil wawancara hingga buku tersebut diterbitkan.
Setelah membaca buku itu secara keseluruhan, Yusril merasa bahwa sebagian besar dari apa yang ia sampaikan dalam wawancara telah dituangkan dengan cukup baik.
Ia menjelaskan bahwa wawancara tersebut dilakukan cukup lama sebelum ia dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih, yang membuatnya sulit mengingat detail spesifik mengenai siapa yang mewawancarainya.
Karena waktu yang telah berlalu, Yusril juga tidak dapat memastikan apakah pewawancara tersebut merupakan bagian dari tim penyusun buku, terutama karena ia tidak mengenal orang tersebut secara pribadi.
Setelah menelaah buku itu secara menyeluruh, Yusril tidak menemukan masalah mendasar dalam isi yang disampaikan, terutama pada bagian yang bersumber dari wawancaranya.
Ia menilai bahwa pandangannya yang disampaikan dalam wawancara tersebut adalah pandangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Saya baru saja menyelesaikan membaca buku itu. Apa yang saya ungkapkan dalam wawancara itu adalah pandangan pribadi saya dan tentunya dapat saya pertanggungjawabkan secara akademis,” ungkapnya.
Yusril juga berharap agar publik dapat menilai karya tersebut secara keseluruhan, dengan membedakan antara substansi yang ada di dalam buku dan persepsi yang mungkin muncul akibat pemilihan judulnya.
Baginya, yang terpenting adalah isi dari wawancara yang merupakan pandangannya.
“Saya tidak keberatan jika pandangan tersebut dimuat dan saya siap untuk mempertanggungjawabkannya secara akademik,” tutup Yusril.
➡️ Baca Juga: Waspadai Risiko Pengambilan Uang di ATM untuk Keamanan Finansial Anda
➡️ Baca Juga: IRGC Tegaskan Hanya AS, Israel, dan Sekutu Barat yang Dilarang Masuk Selat Hormuz




