Harga Minyak Terjun Setelah Mencapai Puncak, IEA Siapkan Penyaluran Cadangan Energi

Harga minyak dunia mengalami penurunan yang signifikan dalam perdagangan Asia pada Rabu, 11 Maret 2026. Penurunan ini dipicu oleh rencana Badan Energi Internasional (IEA) untuk melakukan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Minyak mentah Brent untuk kontrak bulan Mei tercatat turun hampir 1 persen, menjadi US$86,93 per barel, yang setara dengan Rp1,46 juta (dengan kurs Rp16.800). Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sekitar 0,5 persen, mencapai US$83,07 per barel atau setara Rp1,39 juta.
Setelah berita ini muncul, pergerakan harga minyak sempat mengalami volatilitas yang tinggi. Harga minyak berfluktuasi secara cepat dalam hitungan menit sebelum akhirnya menunjukkan tren penurunan yang lebih stabil.
Menurut laporan, IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar sebagai langkah respons terhadap ketidakstabilan pasar yang disebabkan oleh konflik di Iran. Negara-negara anggota IEA dijadwalkan untuk mempertimbangkan proposal ini dalam pertemuan yang berlangsung pada hari Rabu.
Jika disetujui, pelepasan cadangan ini diperkirakan akan melampaui rekor sebelumnya. “Pelepasan cadangan darurat ini diperkirakan akan lebih besar dibandingkan dengan rekor pelepasan sebanyak 182 juta barel yang terjadi pada tahun 2022, saat awal pecahnya perang Rusia-Ukraina,” demikian dilaporkan oleh Investing pada Rabu, 11 Maret 2026.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2022, negara-negara anggota IEA pernah melepaskan 182 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka untuk meredam dampak dari konflik Rusia-Ukraina. Tindakan darurat ini ditujukan untuk mengurangi gangguan pasokan minyak yang meningkat akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz oleh Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia, mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Situasi di selat ini menjadi perhatian utama pasar energi internasional. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Iran telah menyerang kapal-kapal yang melintas di jalur strategis ini dalam beberapa hari terakhir.
Lebih lanjut, Iran juga dilaporkan telah menempatkan ranjau laut di area selat tersebut, yang meningkatkan risiko bagi tanker minyak yang melintasi. Iran memberikan sinyal bahwa jalur ini hanya akan dibuka sepenuhnya jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap negara mereka dihentikan.
Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dapat serius mengganggu pasokan minyak dan gas, terutama bagi negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada jalur tersebut. Keberlangsungan pasokan energi global bergantung pada stabilitas di kawasan ini, dan setiap gangguan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap harga minyak dan pasar energi secara keseluruhan.
➡️ Baca Juga: Kesehatan: Pariwisata Cetak Sejarah Baru
➡️ Baca Juga: IPhone 16e Meluncur, Bye-Bye iPhone 14, iPhone 14 Plus, dan Port Lightning




