Ekonomi Mandiri Pesantren Sunan Drajat Meningkat dengan Omzet Ratusan Miliar

Pondok Pesantren Sunan Drajat di Lamongan menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi tidak hanya sekadar pelengkap pendidikan. Dengan mengelola unit usaha secara profesional, pesantren ini berhasil menciptakan kemandirian ekonomi. Bank Indonesia (BI) berperan sebagai mitra penting dalam mengembangkan berbagai inisiatif yang mendukung tujuan tersebut.
Kerjasama antara pesantren dan BI telah menghasilkan beragam fasilitas dan model bisnis yang inovatif, seperti pusat distribusi (DC), pengembangan Toserba Sunan Drajat, serta mesin produksi. Selain itu, terdapat juga pendampingan dan digitalisasi usaha yang memberikan dampak signifikan, terlihat dari jaringan bisnis yang semakin luas serta omzet Toserba yang telah mencapai angka ratusan miliar rupiah.
Gus Anas Al-Hifni, Direktur Utama Perekonomian Ponpes Sunan Drajat, menjelaskan bahwa pengembangan sektor ekonomi di pesantren ini berakar dari nilai kemandirian yang telah diajarkan sejak awal.
“Sejak awal, kami memang mengedepankan prinsip catur piwulang, yaitu memberi, memberi, dan memberi. Dakwah Sunan Drajat berfokus pada mandiri secara ekonomi sebelum melakukan penyebaran ajaran. Oleh karena itu, perdagangan menjadi bagian dari dakwah kami,” ungkap Gus Anas saat ditemui di Lamongan pada akhir September 2026.
Menurut Gus Anas, restrukturisasi unit ekonomi di Ponpes Sunan Drajat dimulai pada tahun 2018. Sinergi dengan Bank Indonesia semakin meningkat setahun setelahnya, mengarah pada pengembangan yang lebih terencana.
Salah satu dukungan signifikan adalah pembangunan distribution center (DC) untuk Koperasi Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP). Sunan Drajat termasuk dalam tiga pesantren yang mendapat fasilitas ini, bersama dengan Ponpes Nurul Jadid dan Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang.
“Bantuan yang diterima untuk program ini mencapai sekitar Rp 900 juta,” jelas Gus Anas.
Namun, bantuan tersebut tidak hanya terbatas pada pembangunan gudang. Melalui keputusan pengelola pesantren, fasilitas ini dikembangkan menjadi bagian dari pusat bisnis yang lebih komprehensif. Gus Anas menambahkan bahwa pembangunan kompleks bisnis ini memerlukan biaya yang jauh lebih besar, yang diambil dari pembiayaan dan dana Kopontren.
Selain DC, Bank Indonesia juga memberikan dukungan berupa mesin spinner untuk pengembangan industri garam di Sunan Drajat. BI turut berkontribusi dalam penyediaan mesin untuk unit Rice Milling Unit (RMU), sementara pembangunan fasilitas tersebut ditangani langsung oleh pihak pesantren.
➡️ Baca Juga: Barito Pacific Konsolidasikan Neraca di Indonesia Sambil Ekspansi Regional Secara Efektif
➡️ Baca Juga: Zakat Fitrah Harus Tepat, Simak Penjelasan Buya Yahya untuk Umat Muslim yang Perlu Diketahui




