Fakta Terkini: Apakah Jusuf Kalla Menistakan Ajaran Kristen?

Jakarta – Wakil Presiden Republik Indonesia yang menjabat pada periode ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menghadapi tudingan menistakan ajaran Kristen setelah komentarnya mengenai istilah “mati syahid” dalam konteks konflik Poso dan Ambon.
Sebuah video yang beredar di media sosial menampilkan pernyataan JK mengenai mengapa agama sering menjadi pemicu konflik, di mana ia menyebut bahwa kedua belah pihak yang terlibat dalam pertikaian tersebut memiliki keyakinan masing-masing terkait makna “syahid”.
Pernyataan tersebut kemudian disertai dengan narasi dari berbagai akun yang menuduh bahwa apa yang diungkapkan JK tidak sejalan dengan ajaran Kristen yang resmi.
Dalam video tersebut, JK mengungkapkan, “Mengapa agama mudah menjadi penyebab konflik seperti di Poso dan Ambon? Karena kedua belah pihak, baik Islam maupun Kristen, percaya bahwa mati atau membunuh orang lain adalah syahid. Ketika konflik terjadi, kedua pihak meyakini hal tersebut. Jika saya membunuh orang Islam, saya akan dianggap syahid. Jika saya mati pun, saya syahid. Inilah yang membuat konflik sulit untuk dihentikan.”
Berdasarkan penelusuran, video itu pertama kali diunggah oleh akun YouTube Masjid Kampus UGM pada tanggal 5 Maret 2026, yang bertepatan dengan 15 Ramadhan 1447 Hijriah.
Dalam tausiah yang diadakan di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut, JK mengangkat tema ‘Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar’.
Dalam ceramah yang berlangsung selama sekitar 43 menit, JK membuka dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa mendamaikan pihak-pihak yang berselisih memiliki nilai lebih tinggi daripada salat dan puasa. Ini menunjukkan bahwa perdamaian harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks pernyataan yang menjadi viral, JK sebenarnya sedang menggambarkan kondisi nyata yang terjadi selama konflik di Poso dan Ambon, di mana beberapa pihak yang terlibat meyakini bahwa tindakan mereka dapat dibenarkan secara agama.
Ia tidak berusaha menjelaskan ajaran teologi resmi, melainkan menunjukkan bagaimana pemahaman yang keliru dapat digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Bahkan, dalam penjelasan lebih lanjut, ia menekankan bahwa membunuh individu yang tidak bersalah tidak dibenarkan oleh agama manapun dan justru bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
JK juga membagikan pengalamannya dalam menyelesaikan konflik, menekankan pentingnya memahami akar permasalahan, serta perlunya pendekatan dialog dan keadilan untuk mencapai perdamaian.
Sebagai informasi, JK merupakan salah satu inisiator yang terlibat dalam proses Perdamaian Helsinki, yang berhasil mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung selama puluhan tahun antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 2005.
➡️ Baca Juga: Garuda Gandeng Polri Investigasi HP Penumpang Hilang di Pesawat
➡️ Baca Juga: InJourney Memperkirakan 578.311 Penumpang Saat Puncak Arus Balik Mudik Lebaran




