Prabowo Ajak Generasi Muda Pahami Sejarah agar Tidak Terjebak dalam Kesalahan Sejarah

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan generasi muda Indonesia untuk senantiasa mengingat dan memahami sejarah perjuangan bangsa. Ia menekankan pentingnya pengetahuan sejarah agar Indonesia mampu menganalisis perilaku negara lain dan tidak terjebak dalam kesalahan yang sama di masa depan.
Prabowo berpendapat bahwa saat ini Indonesia telah memasuki fase kematangan sebagai sebuah bangsa dan negara. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju kemerdekaan bukanlah hal yang mudah dan memerlukan perjuangan yang panjang dan gigih.
“Sekarang kita sudah lebih matang sebagai negara, sekarang kita sudah lebih matang sebagai bangsa. Kita termasuk bangsa yang relatif muda. Tahun ’45 kita proklamasikan kemerdekaan kita tapi dilanjutkan perang, perang 5 tahun,” ungkap Prabowo saat memberikan sambutan di acara Peluncuran Motor Listrik Nasional di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026.
Menurut Prabowo, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan tidak berakhir setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk upaya-upaya untuk menggagalkan pemerintahan yang baru saja berdiri.
“Perang 5 tahun berhasil kita rebut kemerdekaan kita. Tapi penjajah juga tidak begitu rela ninggalin kita, sehingga begitu merdeka, dalam minggu-minggu pertama kita merdeka, mereka lancarkan kudeta terhadap pemerintah yang baru. Dua minggu sesudah penyerahan kedaulatan,” jelasnya.
Prabowo kemudian mengajak generasi muda untuk lebih mendalami sejarah Indonesia. Ia berpendapat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sebuah bekal untuk memahami tantangan yang dihadapi bangsa baik saat ini maupun di masa depan.
“Saudara-saudara, terutama anak-anak muda, belajarlah sejarah. Bangsa yang tidak mengerti sejarah akan dihukum oleh sejarah,” tegas Prabowo dengan nada serius.
Presiden menambahkan bahwa pemahaman sejarah juga krusial untuk membaca kepentingan dan perilaku negara lain terhadap Indonesia. Tanpa pengetahuan ini, Indonesia berisiko mengulangi kesalahan yang telah terjadi dan kembali berada dalam posisi yang merugikan.
“Kalau kita tidak mengerti bagaimana perilaku bangsa-bangsa lain terhadap kita, kita mungkin selalu akan jadi korban,” kata Prabowo, menekankan pentingnya wawasan sejarah dalam konteks global.
Menurutnya, mempelajari sejarah bukanlah untuk menumbuhkan kebencian terhadap bangsa lain. Indonesia harus tetap mempertahankan karakter sebagai bangsa yang ramah dan terbuka, meskipun harus waspada terhadap potensi ancaman.
Prabowo menegaskan bahwa ia tidak pernah mendorong masyarakat untuk membenci bangsa lain. Menurutnya, sikap ramah dan kebaikan merupakan karakter yang terpatri dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
Dengan pemahaman yang mendalam tentang sejarah, generasi muda diharapkan dapat menjadi pelopor yang bijak dan siap menghadapi tantangan global. Pahami sejarah agar kita tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku aktif dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Sosial: E-Commerce Capai Kesepakatan Bersejarah
➡️ Baca Juga: Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi Mengakibatkan Dua Warga Meninggal Dunia




