Selat Hormuz Ditutup Karena Serangan Israel-AS, Pramono Bahas Dampaknya untuk Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengungkapkan bahwa penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dapat berdampak signifikan pada ekonomi, termasuk untuk Jakarta.
Selat Hormuz adalah jalur laut yang sangat vital, menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, serta terletak di antara Oman dan Iran. Jalur ini berfungsi sebagai rute utama untuk perdagangan energi global, dengan sekitar 20% dari total ekspor minyak dunia melewati selat ini. Mayoritas minyak yang dikirim dari negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, juga melalui rute ini sebelum sampai di pasar internasional.
“Penutupan Selat Hormuz pasti akan mempengaruhi rantai pasokan global, yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang,” ujar Pramono saat memberikan pernyataan, Minggu, 1 Maret 2026.
Meski demikian, Pramono meminta masyarakat Jakarta untuk tetap tenang. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah berfokus pada ketersediaan bahan pokok, terutama menjelang Idul Fitri yang akan datang.
Ia menyebutkan bahwa kebutuhan utama di Jakarta mencakup cabai merah, daging, dan beras. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan bahwa stok bahan makanan tersebut dalam kondisi yang lebih dari cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Mengenai komoditas daging, ia menambahkan bahwa ketersediaan dan pasokan saat ini masih dalam keadaan aman.
Pemerintah Provinsi DKI akan terus memantau perkembangan harga di pasar serta inflasi di Jakarta, sehingga langkah-langkah antisipatif dapat segera diambil jika terjadi lonjakan harga.
“Kami terus memantau semua pasar utama di Jakarta, dan hingga kini belum ada tanda-tanda kenaikan harga,” tegasnya.
Sebagai informasi tambahan, pasar minyak dunia diperkirakan akan mengalami fluktuasi harga dalam minggu mendatang. Ini disebabkan oleh dampak serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran serta pengaruhnya terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Sebelum terjadinya konflik terbaru dengan Iran, analisis menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak yang tajam mungkin akan segera mereda, asalkan serangan tersebut tidak mengganggu pengiriman serta infrastruktur minyak, termasuk pipa dan terminal di pulau Kharg.
Namun, jika infrastruktur atau pasokan minyak terganggu, lonjakan harga yang lebih signifikan dan berdampak lebih lama dapat terjadi, terutama dengan gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
➡️ Baca Juga: Sosial: Startup Raih Pendanaan Miliaran
➡️ Baca Juga: Materi Jurusan Sistem Komputer: Teori dan Aplikasi



