Rupiah Tertekan Pasca Pernyataan BI Terkait Fitch Ratings yang Pertahankan Peringkat Kredit RI

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami pergerakan yang fluktuatif. Namun, pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup dalam posisi melemah.
Menurut data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), kurs rupiah berada di level Rp 16.886 per 5 Maret 2026. Posisi ini menunjukkan penguatan sebesar 25 poin dibandingkan kurs sebelumnya yang tercatat di Rp 16.911 pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026.
Sementara itu, pada perdagangan di pasar spot pada 6 Maret 2026 hingga pukul 09.15 WIB, rupiah tercatat ditransaksikan di angka Rp 16.908 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 3 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.905 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa reaksi Bank Indonesia (BI) terhadap penilaian dari Fitch Ratings, yang memutuskan untuk mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB, disertai dengan penyesuaian outlook menjadi negatif, menjadi salah satu faktor utama dalam dinamika ini.
Peneguhan rating Indonesia di level BBB mencerminkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid. Penyesuaian outlook tersebut diyakini tidak mencerminkan adanya kelemahan dalam dasar-dasar ekonomi negara ini.
Selanjutnya, stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Hal ini didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang tinggi, serta rendahnya risiko kredit. Selain itu, digitalisasi dalam sistem pembayaran yang semakin meluas, didukung oleh infrastruktur yang stabil, serta struktur industri yang sehat, turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Melihat ke depan, BI memperkirakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah masih solid dan menunjukkan tren yang positif. Inflasi juga diperkirakan akan tetap terkendali. Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen, dengan harapan dapat meningkat pada tahun 2027, sejalan dengan inflasi yang tetap sesuai target.
Ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kokoh meskipun di tengah gejolak yang terjadi di tingkat global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan kinerja yang sehat, didorong oleh neraca perdagangan yang solid.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap berada di angka yang tinggi, yaitu sebesar US$154,6 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan untuk 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan berada di atas standar kecukupan internasional yang merekomendasikan cadangan setara dengan minimal 3 bulan impor.
“Kami melihat bahwa mata uang rupiah mengalami fluktuasi, namun ditutup dalam rentang antara Rp 16.900 hingga Rp 16.940,” jelas Ibrahim Assuaibi.
➡️ Baca Juga: Perpanjangan Kontrak ExxonMobil di Blok Cepu, Bahlil Paparkan Poin-Poin Negosiasi Utama
➡️ Baca Juga: Tren Travel Terbaru yang Wajib Kamu Coba Tahun Ini




