Nyai Nur Khodijah: Pelopor Pendiri Pondok Pesantren Putri Pertama di Indonesia

Haul ke-74 Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Nyai Nur Khodijah, pada Sabtu, 14 Maret 2026, mengungkapkan adanya kekeliruan dalam pencatatan tahun wafatnya mendiang istri KH Bisri Syansuri. Hal ini menarik perhatian banyak orang yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok beliau dan keberadaan catatan sejarah yang tepat.
Berdasarkan catatan yang ada, terdapat beberapa tahun yang tercantum sebagai tahun wafat Nyai Nur Khodijah, yaitu 1949, 1952, 1953, 1955, dan 1958. Ketidakpastian ini menciptakan kebingungan di kalangan peneliti dan masyarakat yang ingin mengenang jasa-jasanya.
M. Faishol, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), menjelaskan bahwa pada masa lalu, metode pengumpulan informasi mengenai tokoh-tokoh pendiri NU dan istri mereka sering kali didasarkan pada momen tertentu atau peristiwa penting. Hal ini membuat data yang diperoleh sering kali tidak akurat.
“Sehingga, jika dihitung berdasarkan perhitungan hijriah, maka haul Nyai Nur Khodijah pada tahun 2023 seharusnya adalah yang ke-70, bukan ke-74,” ungkap Faisol dalam keterangan resminya pada 14 Maret 2026.
Faisol menyatakan bahwa informasi ini ia peroleh dari ibunya, yang merupakan santri dari pesantren Nyai Nur Khodijah. Menurut kesaksian ibunya, Nyai Nur Khodijah wafat pada tahun Masehi 1955. Namun, penelusuran lebih lanjut mengungkapkan fakta baru tentang tahun wafatnya.
Keterbukaan informasi tersebut semakin jelas ketika ditemukan buku “Risalah Akhir Sanah” di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan. Buku ini mencatat secara rinci bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada tahun 1955, yang dalam perhitungan hijriah adalah 22 Ramadhan 1374 H.
Jika dihitung ke dalam tahun Masehi, Nyai Nur Khodijah meninggal dunia pada hari Ahad, 15 Mei 1955, dalam usia 63 tahun. Di sisi lain, Kiai Bisri Syansuri meninggal pada 10 Jumadil Akhir 1440 H, atau Jumat, 25 April 1980, di usia 93 tahun.
“Dalam buku ‘Risalah Akhir Sanah’, tercatat kewafatan Nyai Nur pada 22 Ramadhan 1375. Ada sedikit kesalahan terkait tahun yang seharusnya adalah 22 Ramadhan 1374,” lanjutnya.
Faisol juga menambahkan bahwa baik kelahiran maupun wafatnya Nyai Nur Khodijah terjadi pada bulan Ramadhan, menambah makna spiritual pada kehidupannya.
Nyai Nur Khodijah dikenal sebagai pelopor pendidikan pesantren putri pertama di Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok yang lembut, sabar, cerdas, tegas, disiplin, dan memiliki keahlian dalam beribadah. Selama kurang lebih 38 tahun, Nyai Nur Khodijah menemani Kiai Bisri Syansuri dalam pengelolaan Pesantren Denanyar.
Keluarga Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah dikaruniai tujuh anak, yaitu Abdul Wahab, Abdul Hamid, Nur Khodijah, Abdurrohim, Fathimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrohiyah. Masing-masing anak memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan dan agama di Indonesia.
Anak sulung mereka, Kiai Abdul Wahab, lahir pada tahun 1887, diikuti oleh Kiai Abdul Hamid yang lahir pada tahun 1890, sedangkan Nyai Nur Khodijah sebagai putri ketiga lahir pada 23 Februari 1897. Data ini diperoleh dari arsip ANRI yang menunjukkan pentingnya pencatatan sejarah keluarga ini bagi generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Menghilangkan Jamur di Bodi Mobil Tanpa Rasa Panik
➡️ Baca Juga: Penjualan iPhone Air Lesu, Merek Lain Batal Bikin HP Tipis




