Data Kemenkes 2026: Ratusan Ribu Anak Indonesia Menghadapi Masalah Depresi dan Kecemasan

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk periode 2025–2026 mengungkapkan data yang sangat memprihatinkan mengenai kondisi kesehatan mental anak-anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani proses skrining, hampir 10 persen di antaranya menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai masalah utama.
Temuan ini diungkapkan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Kantor Kementerian Kesehatan. Ia menekankan bahwa angka ini merupakan sinyal yang sangat serius dan tidak boleh diabaikan. Mari kita simak detail lebih lanjut mengenai isu ini.
“Ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa ini sangat besar,” ungkap Budi, seperti yang dilaporkan oleh situs resmi Kementerian Kesehatan pada Minggu, 29 Maret 2026.
Menurut data yang dikumpulkan, sekitar 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak teridentifikasi mengalami gejala kecemasan (gangguan kecemasan). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan tanda-tanda depresi (gangguan depresi). Angka-angka ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental anak bukanlah masalah sepele, tetapi merupakan tantangan besar yang memerlukan perhatian dari berbagai sektor.
Lebih lanjut, Budi mengingatkan bahwa gangguan kesehatan mental pada anak dapat berujung pada konsekuensi yang fatal jika tidak ditangani dengan baik. Ia merujuk pada data dari Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam kasus percobaan bunuh diri di kalangan anak-anak dan remaja, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Ia juga menekankan bahwa akar masalah kesehatan mental anak tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, mulai dari keluarga hingga sekolah.
“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anak-anaknya, tetapi juga pola asuh dari keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu meningkatkan sosialisasi mengenai keterampilan hidup dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Setiap orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana kita merespons tekanan tersebut dengan baik,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Kementerian Kesehatan merencanakan untuk memperluas cakupan skrining, dengan target menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia. Diharapkan, ini akan memperkuat deteksi dini dan mempercepat penanganan kasus yang ditemukan di lapangan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa hasil dari skrining tersebut akan ditindaklanjuti oleh fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas. Namun, ia juga mengakui bahwa masih ada tantangan dalam ketersediaan tenaga psikolog klinis, dengan jumlah saat ini hanya sekitar 203 orang di seluruh Indonesia.
➡️ Baca Juga: Timur Tengah Memanas Setelah Serangan AS-Israel ke Iran, 6.047 Jemaah Umrah Kembali ke Indonesia
➡️ Baca Juga: Hiburan: Google Hadapi Tantangan Besar




